Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh CEO Geely Automobile Group, Gan Jiayue, dalam acara komunikasi strategi 5 tahun Geely Holding Group pekan lalu.  
 
Ini bukan sekadar wacana lab. Baterai tersebut akan langsung dipasang di platform mobil listrik yang sudah ada untuk uji validasi kendaraan nyata di jalan.  
 

Lompatan Teknologi Geely.

Langkah ini menandai transisi besar Geely dari riset laboratorium menuju verifikasi level kendaraan. Untuk mewujudkan ambisi ini, Geely telah mengkonsolidasikan seluruh inisiatif baterai di bawah satu entitas bernama Zhejiang Jiyao Tongxing Energy Technology dan membangun Solid-State Battery Joint Laboratory di Zhejiang sejak tahun 2010-an.  
 
Tidak hanya solid-state, Geely juga akan memperkenalkan baterai baru Lithium Manganese Iron Phosphate (LMFP) buatan sendiri dengan kepadatan energi 15% lebih tinggi dari baterai li-ion konvensional.  
Target 500 Wh/kg, Kalahkan Diesel?
Rumor yang beredar, prototipe solid-state Geely telah mencapai kepadatan energi hingga 400-500 Wh/kg. Sebagai perbandingan, baterai EV terbaik saat ini berada di kisaran 250-300 Wh/kg.  
 
Dengan angka tersebut, jarak tempuh 1.000 km dalam sekali charge bukan lagi mimpi.
 
Geely pun berpacu ketat dengan raksasa lain. Dongfeng menargetkan produksi massal 350 Wh/kg pada September 2026, sementara CATL dan BYD baru akan integrasi skala kecil di 2027. Geely berpotensi menjadi yang pertama mencapai mass production.  
Apa Artinya Buat Konsumen Indonesia? 1. Charging Super Cepat & Lebih Aman: Solid-state tidak menggunakan cairan elektrolit yang mudah terbakar. 2. Jarak Lebih Jauh, Bobot Lebih Ringan: Dengan 500 Wh/kg, mobil bisa lebih ringan tapi jarak tempuh 2x lipat. 3. Harga Akan Makin Kompetitif: Karena dikembangkan mandiri, Geely tidak lagi tergantung penuh pada supplier seperti CATL, sehingga rantai pasok lebih efisien. 
Jika uji kendaraan 2026 sukses, kita bisa melihat model Zeekr, Volvo, hingga Geely EX5 generasi berikutnya menggunakan teknologi ini dalam 2-3 tahun ke depan.